Selasa, 23 Agustus 2016

Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini

Anak usia dini yang belum memiliki kemampuan berbicara atau masih berlatih untuk berbicara membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk belajar. Mereka membutuhkan lawan bicara yang cukup nyaman dan tidak mudah memberikan penilaian. Mereka membutuhkan sahabat, entah itu orangtuanya sendiri, kakak, atau teman-temannya yang lebih dewasa untuk memberikan contoh berbicara tanpa mencemooh atau menertawakan. Memang sih balita sangat lucu sekali saat mencoba menirukan pengucapan sebuah kata. Terkadang kita dibuat bingung, “ini anak ngomong apa ya?”. Hal itu memang wajar. Tapi kita sebagai lingkungan terdekatnya harus berusaha memberikan situasi dan kondisi yang nyaman untuk si anak berbicara. Sementara ditahan dulu tertawanya dan berikan contoh bagaimana pengucapan yang benar.

Orang dewasa saja kalau diminta berbicara dalam bahasa asing, misalkan bahasa Inggris, untuk pertama kalinya pasti juga mengalami rasa malu dan takut serta butuh situasi dan kondisi dan lawan bicara yang membuat dia nyaman untuk berlatih berbicara menggunakan bahasa yang jarang atau baru dia kenal. Dan ada guru atau model yang senantiasa tekun, rutin, dan sabar dalam mengajar. Hal ini mirip dengan balita atau anak-anak.

Itulah mengapa rata-rata anak-anak yang memiliki kakak yang usianya tidak terpaut jauh, lebih cepat berbicara ketimbang mereka anak pertama. Ini bisa jadi karena kedekatan hubungan dengan kakaknya tersebut, perasaan nyaman, dan ada model yang setiap hari menjadi contoh bagaimana berbicara.

Terkadang ada anak yang berlatih berbicaranya dengan benda selain manusia, semisal mainannya atau hewan peliharaannya. Hal ini wajar karena benda-benda tersebut tidak menilai atau mencemooh mereka, betul bukan?? ^_^. Terkadang juga ada balita yang bermain peran sebagai seorang dokter atau orangtua kemudian berbicara dengan mainannya. Ini sama persis dengan cara belajar kita terhadap bahasa asing. Masih ingat bagaimana dulu guru kita saat SMP atau SMA memotivasi kita belajar bahasa Inggris dengan diajak bermain peran? Saya dulu ada kalanya disuruh jadi penjual dan teman saya sebagai pembeli, kadang juga disuruh berpura-pura memiliki profesi atau menjadi karakter tertentu dalam sebuah cerita, dan kemudian saya disuruh untuk melakukan dialog dengan teman sekelas, yang sama-sama belum bisa berbahasa asing tersebut. Tentu dialog atau percakapan pun terjadi, dan kita merasa nyaman, tanpa merasa takut dan berpikir bahwa lawan bicara akan menertawakannya, karena sama-sama belajarnya, sama-sama belum bisanya.

Saat balita salah dalam mengucapkan sesuatu, jangan diulang pengucapannya yang salah tapi lebih baik beri contoh. Misal, si adik ingin bilang minum susu tapi yang terdengar “inyum cucu”, kita jangan mengulang pengucapannya “lho kok inyum cucu, ... minum susu tha maksudnya”, lebih baik kita langsung mengucapkan “Oh, adek mau minum susu” sambil kita mengucapkannya dengan jelas dan kalau memungkinkan gerak bibir kita terlihat olehnya. Dan ajak dia mencoba untuk mengulangi lagi pengucapannya dengan benar sekali lagi. Tapi jika anak masih belum bisa, ya sudah, tidak perlu dikomentari, cukup kapan-kapan diajari lagi dan lagi dan lagi. Dan saat mereka sudah terlihat berusaha untuk belajar mengucapkan dengan benar, jangan ragu-ragu untuk memberikan pujian. Anak kecil sangat senang dipuji atas keberhasilan mereka belajar sekecil apa pun itu.

Apalagi jika anak sudah mulai belajar berbahasa, tidak hanya sekedar berbicara, tapi melibatkan cara tertentu dalam berbicara agar maksudnya bisa dipahami dengan baik, dan dia bisa memahami lawan bicara, hal ini butuh rasa senag dan nyaman.. “Senang” dan “nyaman” merupakan kata kunci dalam proses pembelajaran bahasa untuk anak (Harits, 2010: 189). Kunci kesenangan tersebut terletak pada metode ajar yang digunakan dan materi yang diajarkan. Semisal jika dia suka dengan mainan truk atau boneka hewan, maka lebih baik kita memilih materi tentang seputar tingkah laku hewan atau kegiatan truk. Dan metode ajarnya bisa menggunakan bermain peran atau drama. Misalkan ibu atau ayah sebagai dubber dari suara truk atau hewan, truknya bisa ngomong, hewannya bisa ngomong, dan bercakap-cakap dengan si kecil.

Dalam berbagai penelitian yang pernah saya baca menunjukkan, salah satu media belajar yang bagus untuk melatih anak berbicara adalah dengan menyanyikan lagu dengan lirik yang berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari. Misalkan saat mandi kita menyanyikan “Mandi pagi kalau biasa, segar dingin tidak terasa. Sore hari kalau tak mandi, badan lesu main tak mau”. Jika lagu ini diulang-ulang setiap kali dia mandi, dan dia menikmati lagu tersebut dan ikut menyanyikan berarti sudah banyak kata yang masuk dalam ingatannya. Situasi yang menyenangkan dan disertai kegiatan yang berhubungan dengan lagu memudahkan anak mengingat kuat setiap kata yang ada dalam lagu tersebut dan memaknai dengan tepat setiap kata yang diperoleh. Itu hanya saat mandi, masih banyak lagu, atau bahkan bikin lagu sendiri, yang berhubungan dengan kehidupan anak sehari-hari. Lagu-lagu tersebut dapat memperkaya kosa kata mereka.

Ada hal yang menarik juga saat anak bernyanyi bersama dengan orangtua atau gurunya, yaitu lagu mampu membangun motivasi anak untuk memperhatikan, dan pada waktu yang sama anak juga merasa senang. Bernyanyi membuat suasana tidak menakutkan. Menyanyikan lagu dapat membangun kepercayaan diri anak dalam berbahasa.

Penelitian yang dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Science menunjukkan bahwa otak bayi secara alami akan berfungsi untuk memproses bahasa, bahkan ketika mereka masih dalam kandungan sekalipun. Ini dibuktikan dalam penelitian tersebut bahwa anak-anak yang terlahir prematur ternyata bisa membedakan suku kata “ba” dan “ga”, serta membedakan antara suara perempuan dan laki-laki. Jadi setiap anak sejak dari awal sudah dibekali kemampuan berbahasa, hanya saja setiap anak memiliki kondisi diri dan lingkungan sekitar yang berbeda-beda yang bisa mempengaruhi kelancaran berbicara.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan yang berbeda-beda kualitasnya, atau yang dikenal dengan istilah multiple intelligences, yaitu kecerdasan bahasa atau linguistik, matematik, kinestetik, alam atau natural, visual spasial, interpersonal, intrapersonal atau sosial, dan musik. Nah bagi anak yang mendapatkan karunia kecerdasan linguistik yang lebih dominan tentu lebih cepat berbicara daripada yang tidak.

Beberapa orang mengatakan bahwa saat mereka memiliki anak perempuan kemampuan bicaranya lebih cepat muncul daripada saat mereka memiliki anak laki-laki. Hal ini sudah ada penelitiannya, dan hal tersebut benar adanya. Ini karena

Minggu, 21 Agustus 2016

Download Video Belajar Alam Sejak Kecil

Download video belajar alam sejak kecil ini bersifat gratis. Bagi seorang guru atau orangtua, insyaAllah file ini ada manfaatnya. File berupa video yang saya buat ini merupakan visualisasi dari ringkasan materi IPA di sekolah dasar tentang ciri-ciri makhluk hidup dan kebutuhan makhluk hidup.

Ketika anak saya melihat film buatan saya ini, dia sangat senang sekali, terutama ketika dia melihat bagaimana proses ayam bertelur dan kemudian melihat proses anak ayam menetas dan kemudian ayam-ayam kecil yang lucu tersebut keluar dan bergerombol. Sudah dua hari ini, sejak dia melihat film ini, mas arvin (nama anak saya) selalu minta diputarkan film tentang ayam bertelur tersebut. Hehehe ...

Sebenarnya masih banyak bagian film yang dia suka, semisal saat melihat proses biji sedang tumbuh menjadi kecambah dan lambat laun keluar daunnya, saat melihat bunga mawar bergerak mekar, saat lumba-lumba dan jerapah sedang proses melahirkan, saat proses seekor lalat ditangkap oleh tumbuhan venus, saat melihat orangutan sedang bergelayutan di pepohonan di hutan tempat tinggalnya atau habitatnya, dan saat melihat seekor beruang menangkap ikan untuk dimakan, dan masih banyak lagi. Tapi dari semua itu, yang paling berkesan adalah saat mas arvin melihat proses ayam bertelum. "Film ayam... ayam ... pithik ... pithik ... yah", begitulah kata mas Arvin. ^_^

Dari sebuah hasil penelitian tim dari Rutgers University dan University of Virginia, Amerika Serikat. Mereka melakukan beberapa eksperimen yang melibatkan anak-anak berusia antara 11 bulan sampai tiga tahun. Ternyata antara mainan dan hewan, anak-anak lebih senang berinteraksi dengan hewan. Mungkin sifat nalurinya ya?? ^_^ mereka suka dengan makhluk hidup karena mereka bergerak sendiri dan memancing rasa penasaran anak-anak. Oleh karena itu, ada baiknya jika selain menonton film ini, lebih bagus lagi jika anak-anak diberi kesempatan untuk memelihara hewan atau sekedar mengenalkan dan berinteraksi dengan mereka, entah di kelas atau pun di rumah. Sepertinya hal tersebut akan sangat mengasyikkan.

Kalau di rumah saya, saya hanya memelihara 38 ekor ikan patin dan 2 ekor ikan nila merah mulai dari ikan-ikan tersebut masih bibit. Mas arvin senang sekali, dan dia belajar banyak hal tentang makhluk hidup. Makhluk hidup butuh makan, tempat tinggalnya butuh dibersihkan, butuh air bersih, kadang diberi vitamin dan obat, kalau dikeluarkan dari air bisa mati, kalau kolamnya diobok-obok ikannya srtres ^_^ , dan lain sebagainya.

Baik, langsung saja, Anda klik tautan di bawah ini untuk download file. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat buat yang lain. Aamiiin.
File 1: Ciri-ciri makhluk hidup (klik di sini)
File 2: Kebutuhan makhluk hidup. (klik di sini)

Oh iya, perlu diketahui saja, sebenarnya film ini sudah pernah saya upload di youtube. Tapi terkadang banyak juga teman-teman yang bertanya bagaimana cara mengunduhnya. Oleh karena itu saya permudah dengan tinggal klik tautan di atas. Dulu film ini permah di-mute sama youtube, tapi sekarang tidak di-mute, alhamdulillaah. Ini dia film ciri-ciri makhluk hidup:

Sedangkan kalau yang kebutuhan makhluk hidup, alhamdulillah juga tidak di-mute (tidak dimatikan suaranya oleh youtube). ^_^. Ini dia filmnya

Jumat, 19 Agustus 2016

Dilema Full Day dan Boarding School

Sekolah dasar sekarang ini semakin lama banyak yang mengusung konsep full day school. bahkan yang terbaru adalah boarding school. Apa itu full day school? dan apa itu boarding school? apa kelemahan dan kelebihannya dibandingkan dengan sekolah reguler seperti sekolah dasar negeri?

Pada situs kanalinfo.web.id, dijelaskan bahwa full day school secara umum adalah program sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar di sekolah selama sehari penuh. Umumnya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan full day school dimulai 07.00 sampai 16.00. Full day school berawal pada awal sekitar tahun 1980-an di Amerika Serikat pada jenjang sekolah Taman Kanak-kanak kemudian meluas pada jenjang yang lebih tinggi sampai dengan sekolah menengah atas. Latar belakangnya adalah semakin banyaknya kaum ibu yang memiliki anak berusia di bawah 6 tahun dan juga bekerja di luar rumah serta berkembangnya kemajuan di segala aspek kehidupan, maka banyak orang tua berharap nilai akademik anak-anak mereka meningkat sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, juga dapat mengatasi masalah-masalah kemajuan zaman. (Sumber: http://www.kanalinfo.web.id/2016/08/pengertian-full-day-school.html)

Pada situs kajianteori.com, dijelaskan bahwa Boarding School adalah sistem sekolah dengan asrama, dimana peserta didik dan juga para guru dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu tertentu biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan sampai menamatkan sekolahnya. Di lingkungan sekolah, para siswa dapat melakukan interaksi dengan sesama siswa, bahkan berinteraksi dengan para guru setiap saat. Contoh yang baik dapat mereka saksikan langsung di lingkungan mereka tanpa tertunda. Dengan demikian, pendidikan kognisi, afektif, dan psikomotor siswa dapat terlatih lebih baik dan optimal. (sumber: http://www.kajianteori.com/2013/03/boarding-school-pengertian-boarding-school.html)

Jika ditelusuri, sebenarnya sekolah full day school atau pun boarding school sebenarnya lebih bersifat pelayanan kebutuhan masyarakat atau konsumen sekarang ini yang rata-rata adalah keluarga dengan ayah dan ibu sibuk dalam karirnya masing-masing atau jarang di rumah. Terkadang ada juga dari keluarga yang tidak tahu harus bagaimana dalam mendidik anak-anaknya dan memberikan kegiatan harian yang berarti. Tentu dengan adanya full day atau boarding school sangat membantu orangtua dengan kondisi tersebut.

Hanya saja yang menjadi dilema, dalam konsep pendidikan seharusnya pendidikan tidak hanya didominasi oleh sekolah. Sebagaimana yang disampaikan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, menjelaskan bahwa pendidikan merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan. Upaya kebudayaan (pendidikan) menurut Ki Hajar dapat ditempuh dengan sikap (laku) yang dikenal dengan Teori Trikon, yakni; Kontinyu, Konsentris, dan Konvergen. Sedangkan pelaksanaan pendidikan dapat berlangsung dalam berbagai tempat yang beliau beri nama Tri Sentra Pendidikan, yaitu: Alam keluarga, alam perguruan (sekolah), dan alam pergerakan pemuda (masyarakat atau lingkungan sekitar). (sumber: http://pgri-jateng.info/archive/read/51/konsepsi-dan-arah-baru-pendidikan.html)

Sehingga ada tiga sentra pendidikan yang harusnya turut bertanggungjawab dalam proses pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sekolah hanyalah salah satu referensi saja, bukan mendominasi. Keluarga juga sebenarnya bertugas dalam memberikan transfer pengalaman dan pengetahuan, serta kasih sayang. Terutama mereka yang beranjak remaja, peran orang tua, terutama ayah, merupakan figur-figur yang sangat mereka tunggu sebagai tempat curhat atas permasalahan mereka sehari-hari dan sebagai kontrol atas kepribadian mereka yang masih labil. Masyarakat pun juga tidak kalah penting karena banyak profesi di masyarakat yang menjadi gudang ilmu bagi mereka. Kepekaan mereka pun akan terasah bila mereka bergaul dengan masyarakat, dekat dengan masyarakat. Banyak para pelajar yang terdidik dan berhasil menorehkan karya-karya yang luar biasa dalam menjawab masalah masyarakat bermula juga dari kebiasaan mereka dalam memahami masalah masyarakat atau lingkungan sekitar mereka.

Terkadang saya berpikir, bagaimana perasaan anak-anak yang mengikuti full day school. Kebetulan pagi ini tadi, saya bertemu dengan dua siswa yang sekarang sudah masuk jenjang SMP. Mereka mengikuti SMP yang menerapkan konsep full day school yang pulangnya jam 15.30 WIB. Mereka berkeluh kesah karena sejak dari SD juga full day school dan sampai SMP ini akhirnya jam bermain mereka terbatasi, bahkan bisa dikatakan tidak ada waktu bermain. Sepulang sekolah pun mereka harus les. Pada hari minggu mereka sibuk mengerjakan tugas sekolah yang sudah menumpuk. Saya hanya bisa mendengarkan dan mengatakan "begitu ya". Speechless, terdiam saja, bingung mau komentar apa lagi.

Entah bagaimana dengan suara-suara siswa full day school yang lain, apakah sama seperti itu? wallaahu'alam. Solusi apa yang harus diberikan? Saya hanya bisa usul, orang tua harus belajar banyak dalam hal parenting sejak dini. Apalagi siswa yang full day school, mereka butuh orang tuanya sebagai tempat untuk curhat. Atau mungkin seperti di negara Singapura, yang menerapkan lulus seminar parenting terlebih dulu sebelum menikah. Sekolah yang menerapkan full day school atau boarding school, harus memperkaya kegiatan-kegiatan ekstra yang berhubungan dengan minat dan bakat anak. Memberikan kesempatan siswa untuk dekat dengan masyarakat. Keluarga dan sekolah memberikan kesempatan yang cukup untuk bermain dan beristirahat.