Anak usia dini yang belum memiliki kemampuan berbicara atau masih berlatih untuk berbicara membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk belajar. Mereka membutuhkan lawan bicara yang cukup nyaman dan tidak mudah memberikan penilaian. Mereka membutuhkan sahabat, entah itu orangtuanya sendiri, kakak, atau teman-temannya yang lebih dewasa untuk memberikan contoh berbicara tanpa mencemooh atau menertawakan. Memang sih balita sangat lucu sekali saat mencoba menirukan pengucapan sebuah kata. Terkadang kita dibuat bingung, “ini anak ngomong apa ya?”. Hal itu memang wajar. Tapi kita sebagai lingkungan terdekatnya harus berusaha memberikan situasi dan kondisi yang nyaman untuk si anak berbicara. Sementara ditahan dulu tertawanya dan berikan contoh bagaimana pengucapan yang benar.
Orang dewasa saja kalau diminta berbicara dalam bahasa asing, misalkan bahasa Inggris, untuk pertama kalinya pasti juga mengalami rasa malu dan takut serta butuh situasi dan kondisi dan lawan bicara yang membuat dia nyaman untuk berlatih berbicara menggunakan bahasa yang jarang atau baru dia kenal. Dan ada guru atau model yang senantiasa tekun, rutin, dan sabar dalam mengajar. Hal ini mirip dengan balita atau anak-anak.
Itulah mengapa rata-rata anak-anak yang memiliki kakak yang usianya tidak terpaut jauh, lebih cepat berbicara ketimbang mereka anak pertama. Ini bisa jadi karena kedekatan hubungan dengan kakaknya tersebut, perasaan nyaman, dan ada model yang setiap hari menjadi contoh bagaimana berbicara.
Terkadang ada anak yang berlatih berbicaranya dengan benda selain manusia, semisal mainannya atau hewan peliharaannya. Hal ini wajar karena benda-benda tersebut tidak menilai atau mencemooh mereka, betul bukan?? ^_^. Terkadang juga ada balita yang bermain peran sebagai seorang dokter atau orangtua kemudian berbicara dengan mainannya. Ini sama persis dengan cara belajar kita terhadap bahasa asing. Masih ingat bagaimana dulu guru kita saat SMP atau SMA memotivasi kita belajar bahasa Inggris dengan diajak bermain peran? Saya dulu ada kalanya disuruh jadi penjual dan teman saya sebagai pembeli, kadang juga disuruh berpura-pura memiliki profesi atau menjadi karakter tertentu dalam sebuah cerita, dan kemudian saya disuruh untuk melakukan dialog dengan teman sekelas, yang sama-sama belum bisa berbahasa asing tersebut. Tentu dialog atau percakapan pun terjadi, dan kita merasa nyaman, tanpa merasa takut dan berpikir bahwa lawan bicara akan menertawakannya, karena sama-sama belajarnya, sama-sama belum bisanya.
Saat balita salah dalam mengucapkan sesuatu, jangan diulang pengucapannya yang salah tapi lebih baik beri contoh. Misal, si adik ingin bilang minum susu tapi yang terdengar “inyum cucu”, kita jangan mengulang pengucapannya “lho kok inyum cucu, ... minum susu tha maksudnya”, lebih baik kita langsung mengucapkan “Oh, adek mau minum susu” sambil kita mengucapkannya dengan jelas dan kalau memungkinkan gerak bibir kita terlihat olehnya. Dan ajak dia mencoba untuk mengulangi lagi pengucapannya dengan benar sekali lagi. Tapi jika anak masih belum bisa, ya sudah, tidak perlu dikomentari, cukup kapan-kapan diajari lagi dan lagi dan lagi. Dan saat mereka sudah terlihat berusaha untuk belajar mengucapkan dengan benar, jangan ragu-ragu untuk memberikan pujian. Anak kecil sangat senang dipuji atas keberhasilan mereka belajar sekecil apa pun itu.
Apalagi jika anak sudah mulai belajar berbahasa, tidak hanya sekedar berbicara, tapi melibatkan cara tertentu dalam berbicara agar maksudnya bisa dipahami dengan baik, dan dia bisa memahami lawan bicara, hal ini butuh rasa senag dan nyaman.. “Senang” dan “nyaman” merupakan kata kunci dalam proses pembelajaran bahasa untuk anak (Harits, 2010: 189). Kunci kesenangan tersebut terletak pada metode ajar yang digunakan dan materi yang diajarkan. Semisal jika dia suka dengan mainan truk atau boneka hewan, maka lebih baik kita memilih materi tentang seputar tingkah laku hewan atau kegiatan truk. Dan metode ajarnya bisa menggunakan bermain peran atau drama. Misalkan ibu atau ayah sebagai dubber dari suara truk atau hewan, truknya bisa ngomong, hewannya bisa ngomong, dan bercakap-cakap dengan si kecil.
Dalam berbagai penelitian yang pernah saya baca menunjukkan, salah satu media belajar yang bagus untuk melatih anak berbicara adalah dengan menyanyikan lagu dengan lirik yang berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari. Misalkan saat mandi kita menyanyikan “Mandi pagi kalau biasa, segar dingin tidak terasa. Sore hari kalau tak mandi, badan lesu main tak mau”. Jika lagu ini diulang-ulang setiap kali dia mandi, dan dia menikmati lagu tersebut dan ikut menyanyikan berarti sudah banyak kata yang masuk dalam ingatannya. Situasi yang menyenangkan dan disertai kegiatan yang berhubungan dengan lagu memudahkan anak mengingat kuat setiap kata yang ada dalam lagu tersebut dan memaknai dengan tepat setiap kata yang diperoleh. Itu hanya saat mandi, masih banyak lagu, atau bahkan bikin lagu sendiri, yang berhubungan dengan kehidupan anak sehari-hari. Lagu-lagu tersebut dapat memperkaya kosa kata mereka.
Ada hal yang menarik juga saat anak bernyanyi bersama dengan orangtua atau gurunya, yaitu lagu mampu membangun motivasi anak untuk memperhatikan, dan pada waktu yang sama anak juga merasa senang. Bernyanyi membuat suasana tidak menakutkan. Menyanyikan lagu dapat membangun kepercayaan diri anak dalam berbahasa.
Penelitian yang dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Science menunjukkan bahwa otak bayi secara alami akan berfungsi untuk memproses bahasa, bahkan ketika mereka masih dalam kandungan sekalipun. Ini dibuktikan dalam penelitian tersebut bahwa anak-anak yang terlahir prematur ternyata bisa membedakan suku kata “ba” dan “ga”, serta membedakan antara suara perempuan dan laki-laki. Jadi setiap anak sejak dari awal sudah dibekali kemampuan berbahasa, hanya saja setiap anak memiliki kondisi diri dan lingkungan sekitar yang berbeda-beda yang bisa mempengaruhi kelancaran berbicara.
Setiap orang memiliki 8 kecerdasan yang berbeda-beda kualitasnya, atau yang dikenal dengan istilah multiple intelligences, yaitu kecerdasan bahasa atau linguistik, matematik, kinestetik, alam atau natural, visual spasial, interpersonal, intrapersonal atau sosial, dan musik. Nah bagi anak yang mendapatkan karunia kecerdasan linguistik yang lebih dominan tentu lebih cepat berbicara daripada yang tidak.
Beberapa orang mengatakan bahwa saat mereka memiliki anak perempuan kemampuan bicaranya lebih cepat muncul daripada saat mereka memiliki anak laki-laki. Hal ini sudah ada penelitiannya, dan hal tersebut benar adanya. Ini karena otak cerebelum yang mengontrol gerakan dan koordinasi tumbuh lebih cepat pada bayi laki-laki, sedangkan bagian otak bayi perempuan yang mengontrol panca indra, seperti penglihatan dan pendengaran, lebih sensitif daripada bayi laki-laki. Inilah yang menyebabkan anak perempuan rata-rata lebih cepat bicara daripada anak laki-laki. Hal ini terutama terjadi pada usia 18 sampai 24 bulan, anak perempuan memiliki kosakata yang secara signifikan lebih besar dari anak laki-laki.
Ayah dan bunda tidak perlu khawatir, jika anaknya masih belum bisa berbicara seperti anak-anak lain seumurannya, karena banyak faktor yang terlibat sebagaimana yang saya sampaikan di atas. Yang terpenting adalah ketika anak berusia 2 tahun setidaknya ada 15 kata yang bisa diucapkan dengan jelas dan bermakna. Serta, jika anak bisa mengikuti perintah sederhana yang kita berikan, berarti anak tersebut sudah bisa berbahasa, hanya saja butuh banyak dukungan dan rasa nyaman agar dia mau berbicara. Tapi jika anak tidak menunjukkan indikator-indikator tersebut padahal dia sudah berusia 2 tahun, maka orangtua bisa meminta bantuan ahli atau psikolog anak yang insyaAllah bisa membantu mencari tahu apa penyebabnya dan memberikan terapi yang sesuai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar