Jumat, 19 Agustus 2016

Dilema Full Day dan Boarding School

Sekolah dasar sekarang ini semakin lama banyak yang mengusung konsep full day school. bahkan yang terbaru adalah boarding school. Apa itu full day school? dan apa itu boarding school? apa kelemahan dan kelebihannya dibandingkan dengan sekolah reguler seperti sekolah dasar negeri?

Pada situs kanalinfo.web.id, dijelaskan bahwa full day school secara umum adalah program sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar di sekolah selama sehari penuh. Umumnya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan full day school dimulai 07.00 sampai 16.00. Full day school berawal pada awal sekitar tahun 1980-an di Amerika Serikat pada jenjang sekolah Taman Kanak-kanak kemudian meluas pada jenjang yang lebih tinggi sampai dengan sekolah menengah atas. Latar belakangnya adalah semakin banyaknya kaum ibu yang memiliki anak berusia di bawah 6 tahun dan juga bekerja di luar rumah serta berkembangnya kemajuan di segala aspek kehidupan, maka banyak orang tua berharap nilai akademik anak-anak mereka meningkat sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, juga dapat mengatasi masalah-masalah kemajuan zaman. (Sumber: http://www.kanalinfo.web.id/2016/08/pengertian-full-day-school.html)

Pada situs kajianteori.com, dijelaskan bahwa Boarding School adalah sistem sekolah dengan asrama, dimana peserta didik dan juga para guru dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu tertentu biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan sampai menamatkan sekolahnya. Di lingkungan sekolah, para siswa dapat melakukan interaksi dengan sesama siswa, bahkan berinteraksi dengan para guru setiap saat. Contoh yang baik dapat mereka saksikan langsung di lingkungan mereka tanpa tertunda. Dengan demikian, pendidikan kognisi, afektif, dan psikomotor siswa dapat terlatih lebih baik dan optimal. (sumber: http://www.kajianteori.com/2013/03/boarding-school-pengertian-boarding-school.html)

Jika ditelusuri, sebenarnya sekolah full day school atau pun boarding school sebenarnya lebih bersifat pelayanan kebutuhan masyarakat atau konsumen sekarang ini yang rata-rata adalah keluarga dengan ayah dan ibu sibuk dalam karirnya masing-masing atau jarang di rumah. Terkadang ada juga dari keluarga yang tidak tahu harus bagaimana dalam mendidik anak-anaknya dan memberikan kegiatan harian yang berarti. Tentu dengan adanya full day atau boarding school sangat membantu orangtua dengan kondisi tersebut.

Hanya saja yang menjadi dilema, dalam konsep pendidikan seharusnya pendidikan tidak hanya didominasi oleh sekolah. Sebagaimana yang disampaikan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, menjelaskan bahwa pendidikan merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan. Upaya kebudayaan (pendidikan) menurut Ki Hajar dapat ditempuh dengan sikap (laku) yang dikenal dengan Teori Trikon, yakni; Kontinyu, Konsentris, dan Konvergen. Sedangkan pelaksanaan pendidikan dapat berlangsung dalam berbagai tempat yang beliau beri nama Tri Sentra Pendidikan, yaitu: Alam keluarga, alam perguruan (sekolah), dan alam pergerakan pemuda (masyarakat atau lingkungan sekitar). (sumber: http://pgri-jateng.info/archive/read/51/konsepsi-dan-arah-baru-pendidikan.html)

Sehingga ada tiga sentra pendidikan yang harusnya turut bertanggungjawab dalam proses pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sekolah hanyalah salah satu referensi saja, bukan mendominasi. Keluarga juga sebenarnya bertugas dalam memberikan transfer pengalaman dan pengetahuan, serta kasih sayang. Terutama mereka yang beranjak remaja, peran orang tua, terutama ayah, merupakan figur-figur yang sangat mereka tunggu sebagai tempat curhat atas permasalahan mereka sehari-hari dan sebagai kontrol atas kepribadian mereka yang masih labil. Masyarakat pun juga tidak kalah penting karena banyak profesi di masyarakat yang menjadi gudang ilmu bagi mereka. Kepekaan mereka pun akan terasah bila mereka bergaul dengan masyarakat, dekat dengan masyarakat. Banyak para pelajar yang terdidik dan berhasil menorehkan karya-karya yang luar biasa dalam menjawab masalah masyarakat bermula juga dari kebiasaan mereka dalam memahami masalah masyarakat atau lingkungan sekitar mereka.

Terkadang saya berpikir, bagaimana perasaan anak-anak yang mengikuti full day school. Kebetulan pagi ini tadi, saya bertemu dengan dua siswa yang sekarang sudah masuk jenjang SMP. Mereka mengikuti SMP yang menerapkan konsep full day school yang pulangnya jam 15.30 WIB. Mereka berkeluh kesah karena sejak dari SD juga full day school dan sampai SMP ini akhirnya jam bermain mereka terbatasi, bahkan bisa dikatakan tidak ada waktu bermain. Sepulang sekolah pun mereka harus les. Pada hari minggu mereka sibuk mengerjakan tugas sekolah yang sudah menumpuk. Saya hanya bisa mendengarkan dan mengatakan "begitu ya". Speechless, terdiam saja, bingung mau komentar apa lagi.

Entah bagaimana dengan suara-suara siswa full day school yang lain, apakah sama seperti itu? wallaahu'alam. Solusi apa yang harus diberikan? Saya hanya bisa usul, orang tua harus belajar banyak dalam hal parenting sejak dini. Apalagi siswa yang full day school, mereka butuh orang tuanya sebagai tempat untuk curhat. Atau mungkin seperti di negara Singapura, yang menerapkan lulus seminar parenting terlebih dulu sebelum menikah. Sekolah yang menerapkan full day school atau boarding school, harus memperkaya kegiatan-kegiatan ekstra yang berhubungan dengan minat dan bakat anak. Memberikan kesempatan siswa untuk dekat dengan masyarakat. Keluarga dan sekolah memberikan kesempatan yang cukup untuk bermain dan beristirahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar